<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319</id><updated>2011-07-28T16:11:21.631-07:00</updated><category term='Ensklopedi'/><category term='Artikel'/><category term='Hikmah'/><title type='text'>Kelompok Kajian Intensif Islamiyah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319.post-390758147986381838</id><published>2009-04-20T23:28:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T00:22:45.757-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>METODE PENDIDIKAN AL-QUR’AN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala perubahan dan reformasi menjadi sebuah wacana yang hangat dalam komunitas kita (umat Islam), maka pandangan kebanyakan dari kita adalah ke Barat sebagai cermin kemajuan. Barat-sebagai peradaban yang telah menghegemoni dunia sekitar beberapa abad yang lalu-menjadi kiblat utama umat Islam dalam upaya mereformasi pula merekrontruksi peradaban yang dulu pernah jaya. Ironisnya itu hampir terjadi pada seluruh sendi kehidupan umat Islam itu sendiri, baik itu dari segi ekonomi, pendidikan, tradisi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal keadaan sosial, ekonomi, tradisi, juga perbedaan titik tolak peradaban antara Islam-Barat bisa menjadi kendala dalam tataran pelaksanaanya. Oleh karena itu, sebuah soal yang menarik untuk ditanyakan adalah: Pendidikan itu apa?Seperti apa?Bagaimana semestinya pendidikan dalam Islam itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali menjelaskan pendidikan atau tarbiyyah itu adalah ibarat pekerjaan seorang petani yang merawat tanamannya dengan mencabuti benalu di sekitar tanaman tersebut untuk memperoleh hasil lebih baik. Berangkat dari pengertian yang dipaparkan Imam Ghazali melalui contoh itu. Maka seorang pendidik atau pengajar ibaratnya seorang Petani. Membangun, mendidik sesuatu tahap demi tahap hingga pada tahapan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pendidikan manusia tumbuh juga berkembang menjadi lebih baik, secara jasad, akal, maupun akhlaq. Oleh karena itu manusia bisa membawa dirinya menjadi makhluk yang baik, pula merubah tabiat manusia yang tercela menjadi terpuji, dan itu merupakan tujuan dari pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Target Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah amalan atau pekerjaan apa saja perlu yang namanya target, adapun target dari pendidikan diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab atau budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara makan, buang hajat, juga kebiasaan lainnya tentu dikehidupan manusia ada tata caranya. Islam juga mengajarkan banyak tentang yang berkaitan dengan akhlak, bermuamalah antara masing-masing individu maupun dengan masyarakat umum. Nabi Muhammad SAW juga diutus untuk memperbaiki budi pekerti umat manusia. Apalagi kita sebagai bangsa timur, yang katanya masih kental dengan sopan santun. Sebagai contoh : adab tatkala kita berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita, sudah semestinya mengatur suara kita agar jangan terlalu tinggi, pun memakai bahasa yg lebih santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tazkiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyucian atau pendidikan rohani, adalah manhaj Qur’any. Dimana dengan berdzikir kepada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, Qiyamul Lail, banyak-banyak beribadah maupun beramal. Pula melalui tafakkur dan tadabbur terhadap karunia Allah, maka manusia akan mendapatkan kesucian jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerangi Hawa Nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali berpendapat bahwa berperang melawan hawa nafsu lebih berat dari pada memerangi setan secara langsung. Karena manusia tak akan mampu menaklukkan dengan sekali saja, lalu mengekangnya seperti bintan buruan. Hawa nafsu itu diibaratkan binatang yang ditunggangi, oleh karena itu dibutuhkan tali kuda yang kuat ketika mengekangnya agar tak mudah lepas dan putus. Maka saat terkekangnya hawa nafsu, akan mencegah kita dari kehancuran dan kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan dan Posisinya Dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tidak masuk akal metode-tarbiyah qur’aniah- ini, dan seolah-olah tak akan langgeng keberadaan sebuah pendidikan. Baik yakin terhadap metode pendidikan, maupun menyakini atas tarbiyah yang telah jelas dalam tujuannya. Barangkali itu semua akan mustahil, jika bukan pendidikan tersebut adalah tarbiyah qur’aniah. Karena Al-Qur’an pada dasar sebuah manhaj atau metode, intergal untuk pendidikan Islam. Yaitu saling menyempurnakan satu sama lain, walaupun itu perkara yang secuil. Mencakup segala aspek kemanusian dari berbagai macam segi, jadi ini adalah metode pendidikan yang tiada duanya dari seluruh metode-metode yang ada di muka bumi. Dan jika melihat dalam sejarah perjalanan umat Islam, kita dapati bahwa telah ada metode ini sejak empat belas abad tahun yang lalu. Dengan demikian, maka perlu ada batasan tujuan, proses, pula tempatnya, sebagaimana Al-Qur’an membatasinya. Atas dasar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meniadakan cacat atau cela yang tertinggal padanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menyempurnakan pengaturan rencana pendidikan secara sempurna, baik keterkaitan maupun manejemennya berdasarkan asas yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menyempurnakan metode-metode dan kandungan-kandungannya, khususnya pada tarbiyah Al Insan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Medan Pendidikan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kita lihat bahawasannya pedidikan Islam mecakup segalanya secara paripurna, di mana tak terdapat satu celahpun dari berbagai sisi yang bertentangan. Dan dengannya manusia dapat terus hidup secara berkesinambungan di muka bumi ini. Jikalau pendidikan Islam bertujuan membangun berdasarkan jalan yang lurus dan tertentu, sudah semestinya perlu adanya medan-medan pendidikan. Tentunya medan-medan tersebut tak keluar dari jalan yang benar, oleh karena itu perlu adanya perkembangan untuk pertumbuhan jasad, psikologi, akal, pula bagi masyarakat umum, dll. Di dalam tarbiyah qur’aniah membagi seseorang menjadi berbagai sisi, yaitu : jasad, akal, keyakinan, akhlak, perasaan, aesthetika (keindan), masyarakat atau sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan jasad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasad atau jasmani tak bisa lepas-bebas begitu saja dari akal, dan ruh. Akan tetapi dia terikat erat dengannya. Jika manusia itu hanya terdiri dari sekedar jasad, maka pendidikan akan sia-sia saja, berdasarkan pertimbangan satu segi, dan bukan berdasarkan dua segi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Al-Qur’an manusia adalah makhluk yang tercipta dari tanah, lalu Allah menyempurnakan penciptaan manusia dengan cara memperbanyaknya. Yaitu mempertemukan antara laki-laki dan perempuan, pertemuan jasad yang akan menghasilkan jasad pula. Al-Qur’an pun mengajarkan perlu untuk memelihara tubuh, dengan makan, istirahat, pula menjaga kebersihan badan. Dalam kitab suci kita juga tidak mengeyampingkan yang namanya vitalitas, seperti hubungan antara pria dan wanita, dan hal-hal lainnya yang membantu menjaga keberadaan manusia. Dimana itu adalah hal penting yang terikat padanya jiwa dan jasad. Dan Islam membatasi budi pekerti manusia dalam hal hubungan antara pria dan wanita di kehidupan pada umumnya, dengan cara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pendidikan jasmani dalam syari’at Islam bertujuan, untuk membuat jasad yang kuat dan kokoh. Dengan demikian akan membantu kita agar mudah dalam beribadah kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan Akal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diciptakannya manusia menjadi makhluk yang mulia, karena dia di karuniai Allah SWT akal untuk berfikir. Di mana akal merupakan sarana yang dengannya dapat memahami, mencermati, menekuni, pula mempelajari. Juga akal yang memberi manusia kekuatan agar dapat mencermati, mengulangi, sehingga membuat sebuah keputusan. Akal pikiran manusia adalah nikmat yang besar diberikan Allah SWT pada kita, dan akal adalah jalan manusia kepada Allah SWT. Allah berfirman yang artinya : ”Maka apakah mereka tak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan” (Q.S : Al-Ghasiyah : 17). Juga dalam Qur’an surat Ar-Ruum: 21 Dia berfirman : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu dan akal, keduanya adalah wasilah untuk mengetahui. Dengan demikian Al-Qur’an mengikat budi pekerti seorang muslim pada setiap kehidupannya, baik pemikiran atau amal dengan akal dan ilmu. Maka tidak dibiarkan berjalan tanpa keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fungsi akal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir pada keadaan alam dan sunnatullah di bumi, juga keadaan umat, bangsa, berdasarkan sejarah. Allah berfirman yang artinya :”Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu tak akan pernah mendapati perubahan pada sunnah Allah” (Q.S: Al-Ahzab : 62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir tentang mu’amalah. Yang dimaksud dengan berpikir tentangnya adalah mengetahui, menerangkan sebab dan pembenaran hukum dengan masyarakat umum. Seperti : pengharaman minum khamr, perintah qishash dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir tentang ilmu, Allah SWT berfirman yang artinya :”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati agar kamu bersyukur” (An-Nahl : 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia dilahirkan ke bumi, tidak berilmu sedikitpun. dan Allah Swt. menganugrahkan manusia dengan panca indera dan akal, agar mengetahui. Dengan demikian manusia bertanggung jawab sepenuhnya di hadapan Allah AWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib membangunnya, dengan menggunakan panca indera dan akal secara bersamaan. Karena keduanya adalah nikmat yang besar, maka di wajibkan untuk bersyukur dengan memanfaatkan nikmat tersebut dengan jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan terhadap keyakinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menjamin bahwa pada diri manusia terdapat keyakinan. Dan menurut DR. Ali Khalil Musthafa akidah tersebut dijelaskan terbagi menjadi 3 segi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Percaya pada Allah, Esa pada dzat-Nya, Pencipta atas segala sesuatu khususnya bagi manusia.&lt;br /&gt;   2. Percaya pada Qadla’ dan Qadar, karena Allah lah yang mampu melakukan dan merubahnya seperti juga percaya atau yakin pada hari kiamat.&lt;br /&gt;   3. Percaya pada seluruh Rasul, kitab-kitab samawi yang terdahulu, terutama pada risalah Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga segi ini memperlihatkan dan menjelaskan bahwa aqidah Islamiah, mempunyai fungsi dasar dalam kehidupan manusia. Diantara tujuannnya menuntun umat menuju jalan yang terang, serta menjauhkan hambanya dari memiliki aqidah yang sesat atas Tuhan semesta alam ini yaitu Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan dan membangun manusia menjadi seorang hamba yang shaleh. Lalu kita dapat menggambarkan, bagaimana kepribadian muslim yang dimaksudkan oleh tarbiyah qur’aniah. Hendaknya dia itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan akal dalam membangun akidahnya, serta dengannya dapat mengatur dan mengawasi kehidupannya, sehinnga dapat berpikir juga beramal dengan niat hanya untuk Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim jiwanya selalu terikat dengan Allah SWT, tidak membiarkan setitik kesalahan atau kelemahan pada dirinya yang nampak. Dan jika dia terjatuh dalam kesalahan, maka dia segera bertaubat pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim haruslah sehat jasmaninya, dia pun berakhlaq terpuji dengan saudara-saudaranya, masyarakatnya dan Allah swt, seoarang muslim juga seniman yang suka terhadap keindahan di mana saja dia melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seorang muslim membangun dengan timbangan yang teliti, tak seenaknya saja pada setiap sendi-sendi kehidupannya. Dengan begitu metode tarbiyah qur’aniah, adalah tekhnik yang sangat teliti, memelihara tabiat manusia di seluruh keadaannya dengan muatan dan bobot yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam bi shawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh; Fazlurrahman, Mhs. Al-Azhar. Anggota Kifayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3147043417932170319-390758147986381838?l=kifayahplus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/390758147986381838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3147043417932170319&amp;postID=390758147986381838' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/390758147986381838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/390758147986381838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/2009/04/metode-pendidikan-al-quran.html' title='METODE PENDIDIKAN AL-QUR’AN'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319.post-3575827777656731256</id><published>2009-04-20T23:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T23:27:11.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensklopedi'/><title type='text'>Al-i'jaz Al-'Ilmi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/Se1mgntcglI/AAAAAAAAABA/GaHfQMju0Jg/s1600-h/Nigella_Sativa_Seed.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 239px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/Se1mgntcglI/AAAAAAAAABA/GaHfQMju0Jg/s320/Nigella_Sativa_Seed.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327026644850606674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSHIOUK%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSHIOUK%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSHIOUK%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:right; 	mso-pagination:widow-orphan; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:70.85pt 85.05pt 70.85pt 85.05pt; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Sebuah upaya pembuktian tentang kesucian pondasi Islam)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Segala sesuatu yang datang dari Rasulullah adalah sebuah kebenaran, karena dialah satu-satunya makhluk tuhan yang paling suci. Beliau diutus dengan sebuah undang-undang paten bernama Al-qur'an yang diterjemahkan dengan perilaku,budi pekerti dan tutur kata beliau sehari-hari yang biasa kita sebut dengan As-sunnah. Didalamnya (al-qur'an dan As-sunnah) banyak berisi tentang teori-teori yang tak mampu digapai oleh akal manusia saat itu, namun seiring dengan perkembangan zaman, teori-tori itu berusaha diterjemahkan oleh manusia-manusia pintar melalui teknologi dan sains.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita ambil beberapa contoh, bahwa dibalik sabda-sabda suci Rasulullah SAW, terungkap ibroh dan hikmah yang agung.&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;@.Habbah sauda'/habbah barakah (dalam bahasa ilmiah biasa disebut dengan NIGELLA SATIVA)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Benarkah habah sauda' itu obah bagi segala macam penyakit?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagian orang meyakini bahwa habah sauda' adalah obat untuk segaa macam penyakit, adapula sebagian orang yang mengingkari tentng faidah dan khasiat habah sauda', juga ada yng meyakini bahwa habah sauda' berkhasiat dan mampu menyembuhkan beberapa penyakit tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ثبت فى الصحيحين : من حديث ابى سلمة عن أبى هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : عليكم&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;بهذه الحبة السوداء , فإنَ فيها شفا ء من كل داء إلاَ االسام "&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;و السام : الموت "&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam shahihain disebutkan hadits dari abi salamah dari Abi hurairah RA. Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : Bagi kalianlah dalam habah sauda' ini. Maka sesungguhnya didalamnya terkandung obat dari segala macam penyakit kecuali As-Saam (HSR bukhari : 5688 dan Muslim : 2215)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;As-saam adalah maut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun bagi sebagian uLama seperti Ibn hajar dan yang lainnya, hadits diatas adalah sesuatu yang umum, membutuhkan kepada sebuah takhshish.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa tahun silam telah dilakukan study ilmiah oleh beberapa pakar, namun penelitian ini belum sampai pada titik kesempurnaan dan masih banyak membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pada awalnya penelitian dilakukan kepada seekor tikus gila, dari penelitian itu menunjukkan bahwa manfaat dari habah sauda' mampu mengurangi sensitifitas pada tikus tersebut, sebuah majalah terkenal( annals of allergy) telah mengulas tentang penelitian ini ditahun 1993.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ditahun yang sama sebuah penelitian juga dilakukan oleh beberapa pakar, menunjukkan bahwa saripati habah sauda' mampu menurunkan dan menetralisir kadar gula dalam darah seekor kelinci, yang dimuat dalam international journal of pharmacology, 1993.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berbagai macam penelitian juga telah dilakukan ditahun-tahun selanjutnya oleh para ahli dibeberapa laboratorium bahwa habah sauda' berkhasiat membunuh bakteri yang terdapat pada tubuh binatang percobaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penelitian berikutnya menghasilkan bahwa diantara khasiat habah sauda' mampu mencegah penyakit kanker dan menguatkan kekebalan tubuh dari serangan virus dan kuman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hingga saat ini upaya itu terus dilakukan dengan melakukan pengembangan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penelitian terhadap habah sauda' yang dilakukan oleh seorang pakar yang bernama Rema Anas Musthafa Al-Zurqa di King's college London,yang meraih gelar magister dari hasil peneitiannya tersebut, dibawah bimbingan pakar-pakar inggris yang dilakukan dilaboratorium London university.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Telah kita ketahui bersama dari ulasan diatas bahwa diantara khasiat dan manfaat minyak habah sauda' (nigella sativa) mampu membunuh kuman dan bakteri serta menambah kekebalan tubuh, disamping itu juga berfunsi sebagai anti inflammatory (radang).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;@ Rahasia nabi SAW tentang pelarangan terlalu banyak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;makan dan minum(berlebihan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ما ملأ إبن آدم وعاء شرا من بطنه , بحسب إبن آدم لقيمات يقمن صلبه , فإن كان لا محالة فثلث لطعامه و ثلث لشرابه , و ثلث لنفسه ( &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;رواه أحمد و الترمذى و إبن ماجة و الحاكم )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hadits diatas sesuai dengan firman Allah SWT, yang turun jauh sebelum sabda nabi SAW diatas, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;قال الله تعالى : وكلوا واشربوا ولا تسرفوا (الأعراف : 31)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'araf ayat : 31 : " Dan makan dan minum lah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan "&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ilmu kedokteran modern telah mengungkapkan bahwa memenuhi perut dengan makanan dan minuman yang berlebihan dapat membahayakan gerak dan gesekan yang terjadi didalam perut dan anggota tubuh yang berada disekitarnya,terkadang dengan kepenuhan itu membuat perut menghimpit hati atau paru-paru,pembuluh darah dan menghambat fungsinya sebagai alat pernapasan, serta mempersempit masuknya oksigen yang di butuhkan tubuh.Berkaitan dengan makanan berlebihan yang tidak dibutuhkan oleh badan akan menumpuk dan menggumpal menjadi lemak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Rasulullah SAW melarang ummatnya bersikap emosional dan pemarah&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;@&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ثبت أن رجلا قال للنبي&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;صلى الله عليه و سلم : أوصني , قال : لا تغضب ( أخرجه البخارى و الترمذى و أحمد )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang sahabat berkata kepada baginda Nabi SAW, Ya Rasulullah berwasiatlah kepadaku, Rasulullah bersabda : Janganlah kamu marah (HR Bukhari,tirmidzi dan Ahmad)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam Al-qur'an disebutkan betapa Allah memuji hamba-hambaNya yang mampu menahan amarah serta mudah untuk memafkan kesalahan orang lain, sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran Ayat : 134 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;( والكاظمين الغيظ و العافين عن الناس )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebuah penelitian yang dilakukan dokter-dokter ahli tentang pengaruh emosi dan amarah pada jiwa seseorang, secara otomatis dan spontan bahwa emosi mampu menaikkan tekanan darah dalam tubuh seseorang,bahkan disinyalir bahwa tekanan darah yang berlebih mampu membawa kepada hal yang lebih parah seperti serangan jantung, gangguan pernapasan, secara langsung ataupun tidak marah yang berkepanjangan sangat besar pengaruhnya bagi seorang penderita diabetes(penyakit gula/kencing manis) bahwa hal tersebut menjadikan produksi hormon adrenalin meningkat secara drastis, yang mana keadaan fisik yang demikian menjadikan daya tahan tubuh lemah dan mudahnya terserang penyakit &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang beraneka ragam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(disarikan dari beberapa bab, karya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DR. Haany bin Mar'i Al-qailany dan Syaikh Majdi Fathy yang berjudul : al-mausu'ah al-ilmiyyah fii i'jaazi al-qur'an l-kariem wa as-sunnah an-nabawiyyah)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By. David W.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3147043417932170319-3575827777656731256?l=kifayahplus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/3575827777656731256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3147043417932170319&amp;postID=3575827777656731256' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/3575827777656731256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/3575827777656731256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/2009/04/al-ijaz-al-ilmi.html' title='Al-i&apos;jaz Al-&apos;Ilmi'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/Se1mgntcglI/AAAAAAAAABA/GaHfQMju0Jg/s72-c/Nigella_Sativa_Seed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319.post-2165278464953517568</id><published>2009-04-20T23:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T23:17:32.475-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>JIHAD DALAM ISLAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/Se1kb4knllI/AAAAAAAAAA4/LTYthDNp8JQ/s1600-h/jihad.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 194px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/Se1kb4knllI/AAAAAAAAAA4/LTYthDNp8JQ/s320/jihad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327024364454385234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara masalah jihad maka sangat luas sekali pembahasannya. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman:’ Tidaklah sama antara mukmin yang tidak ikut berperang dan tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang tidak ikut berperang satu derajat, kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tidak berperang dengan pahala yang besar yaitu beberapa derajat dari padanya,ampunan serta rahmat. dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang’.(Q.S.An-Nisa:95,96)&lt;br /&gt;Rasulullah Bersabda: ’Barang siapa yang meninggal dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad maka dia mati di dalam kemunafikan’.(H.S.R Muslim no:1910 Dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;Rasulullah saw. Bersabda: ’Tiangnya agama islam adalah solat dan puncaknya adalah jihad dijalan ALLAH’.(H.S.R.Tirmidzi no:3616 Dari jalan Muadz ibnu Jabal).&lt;br /&gt;Ulama berkata: (Al-Jihaadu Waajibun ‘Ala Kulli Muslimin, Wayakuunu Bil-Maali Wahuwa Al-Infaq, Wayakuunu Binnafsi Wahuya Al-Qital, Wayakuunu Bil-Lisaani wal Qolami Wahuya Ad-Da’wah Ilalloh wad-Difaa’u ‘Anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad merupakan tulang punggung dan kubah islam, karena dengan berjihad ada dua alternatif yang akan kita dapatkan yaitu memperoleh kemenangan atau mati syahid. Kedudukan orang yang berjihad di jalan Allah amatlah tinggi dan mulia di akhirat begitu juga di dunia. Rasulullah saw. adalah orang yang paling tinggi derajatnya dalam jihad, beliau telah berjihad dengan segala bentuk dan macamnya beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad baik dengan hati, lisan, tangan, harta, ilmu dan pedang (senjata). Setiap detik yang berputar dan setiap darah yang mengalir di tubuh beliau adalah untuk berjihad di jalan Allah. Oleh karena itulah, beliau nama beliau paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Ada sebagian kaum muslimin memahami bahwa jihad itu selalu identik dengan hal-hal yang berbau senjata atau Bom-bom yang membabibuta, dan orang-orang kafir mengklaim bahwa Islam adalah agama yang demonis, ekstrem, teroris serta mengajarkan kekerasan, padahal islam adalah agama yang penuh rahmat dan lemah lembut. Fenomena yang terjadi pada zaman sekarang ini seperti peristiwa gaza di palestina, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara kita Indonesia, pengoboman terjadi di mana-mana seperti bom bali, di hotel, mall dan tempat lainnya. Mereka sebagai pelaku pengoboman mengatakan bahkan meyakini apa yang di perbuatnya adalah jihad yang di ajarkan oleh agama islam. Begitu juga yang di palestina, ada sebagian kaum muslimin ingin pergi ke palestina untuk Berjihad Bil-Qital melawan Israel yahudi. kaum muslimin pada umumnya yang ada di seluruh dunia ini juga berpandangan bahwa untuk sekarang ini ada jihad di Palestina.&lt;br /&gt;Apakah pengeboman itu termasuk Jihad Fi Sabilillah? adakah Bom Syahid dalam islam? dan adakah Jihad di Palestina? Maka untuk mengetahui sesuatu itu Jihad atau Tidak kita harus tahu esensi, destinasi, macam, dhowabith, hukum dan syarat serta kaidah-kaidah dalam berjihad. Disini penulis akan menjelaskan secara singkat kaidah-kaidah dalam berjihad menurut Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena ini adalah Maudhu’ yang sangat penting dalam masalah jihad, yaitu memahami bahwa jihad yang disyariatkan dalam Islam adalah sesuai dengan kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits serta Atsar Salafus Sholih. Tidak sempurna jihad fisabilillah dan tidak akan termasuk amal sholih tanpa memperhatikan syarat-syarat tersebut. Diantara kaidah-kaidah serta syarat-syarat berjihad adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1). Jihad harus dilandasi oleh dua hal yang merupakan syarat di terimanya amal ibadah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasulullah).&lt;br /&gt;(2). Jihad harus sesuai dengan maksud dan tujuan disyariatkannya jihad yaitu untuk meninggikan kalimat Allah dan agar agama Allah tegak di muka bumi. Rasulullah Bersabda:’’Barang siapa yang berperang(berjihad)di jalan ALLAH agar kalimat ALLAH tinggi maka dia jihad di jalan ALLAH’’.(H.S.R Bukhori no:123,2810,7458, Muslim no:4896,4897, Abu Daud no:2517,2518, Tirmidzi no:1646, An-Nasai no:3136, Ibnu Majah no:2783 Dari jalan Abu Musa Al-Asy’ari).&lt;br /&gt;(3). Jihad haruslah di iringi dengan Ilmu dan Pemahaman yang baik, karena jihad termasuk semulia-mulianya ibadah dan ketaatan.&lt;br /&gt;(4). Jihad hendaknya dilakukan dengan penuh rahmat, filantropi dan lemah lembut, karena jihad tidaklah di syariatkan untuk menyiksa jiwa atau menyakiti orang lain.&lt;br /&gt;(5). Jihad haruslah di penuhi dengan keadilan dan jauh dari kezholiman.&lt;br /&gt;(6). Jihad Tholab (ofensif) haruslah bersama Imam (pemimpin) kaum muslimin atau dengan seizinnya baik Imam tersebut orang yang baik ataupun fasik.&lt;br /&gt;(7). Jihad di jalan Allah disesuaikan dengan keadaan kaum muslimin, sudah kuatkah atau lemah? karena kondisi bisa berubah setiap waktu dan tempat.&lt;br /&gt;(8). Jihad haruslah dapat mewujudkan kemaslahatan dan tidak mengakibatkan kemudhorotan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan; pondasi dari kaidah-kaidah di atas adalah menjadikan Al-Qur’an dan Hadits,  sebagai tolak ukur dalam segala kondisi dan hal tersebut mencakup empat perkara: (1) Aqidah yang Shohih. (2) Niat yang ikhlas. (3) Kejujuran dalam bertawakal dan (4) Mengikuti sunnah Rasulullah. Seorang Mujahid yang tidak berpedoman dengan Aqidah yang shohih maka ucapan dan perbuatannya tidak terlepas dari detriment dan deviasi, karena shohihnya aqidah seseorang adalah pondasi bagi keselamatan ucapan dan perbuatan. Seorang mujahid yang tidak berpedoman dengan niat ikhlas dalam ucapan dan perbuatan maka jihadnya bukan karena mengharap ridho Allah bahkan hanya untuk memuaskan hawa nafsunya, dan mujahid yang tidak jujur dalam bertawakal kepada Allah maka dia tidak akan istiqomah dalam berjihad di jalan Allah dan memikul beban jihad, bahkan tekadnya bisa cepat lemah dan mudah pesimis dari pertolongan Allah, dan mujahid yang tidak mengikuti jejak Rasulullah maka jihadnya tidak akan benar dan tidak jauh dari bid’ah serta distorsi bahkan jihadnya lebih condong kepada depridasi terhadap dirinya dan orang lain dari pada mashlahat dan seruan kepada jalan Allah yang lurus.’Wallohu a’lam bish-showab’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oleh; Agus Ariyanto, Anggota Kifayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3147043417932170319-2165278464953517568?l=kifayahplus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/2165278464953517568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3147043417932170319&amp;postID=2165278464953517568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/2165278464953517568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/2165278464953517568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/2009/04/jihad-dalam-islam.html' title='JIHAD DALAM ISLAM'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/Se1kb4knllI/AAAAAAAAAA4/LTYthDNp8JQ/s72-c/jihad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319.post-4300381498146469079</id><published>2009-04-16T06:19:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:58:00.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kebangkitan Umat Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aneka ideology jahiliyah terus menampakkan realitas kegagalannya dalam memberikan kontribusi nilai bagi kemanusiaan, anggapan terealisasinya keberhasilan ideology liberalisme-sekuler di barat sudah tidak dapat dipertahankan lagi, kebusukan kapitalisme yang berdasarkan liberalisme yang dulu dinobatkan sebagai ideology terbaik setelah tumbangnya komunisme yang dipresentasikan Unisoviet telah terekam oleh semua media masa dunia akhir-akhir ini dengan kecewanya para pebisnis karena kebangkrutan yang sangat drastis di bursa saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bangunan keilmuan dalam hal bidang kemanusiaan berusaha mereka dirikan akan tetapi tetap tidak mampu menghentikan naiknya angka bunuh diri, penyakit jiwa, kriminalitas, serta berbagai macam patologi individu dan sosial lainnya, kemajuan teknologi yang seharusnya bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia telah menjadi boomerang bagi kemanusiaan itu sendiri dan realitas baratlah yang menjadi saksi dalam hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak,kaum muslimin yang mempunyai kegemilangan historik yang menjadi kontributor inti kemajuan kemanusiaan karena komitmen dengan kemurnian keislaman mereka, sekarang akibat menjauhnya mereka dari Islam maka jabatan sebagai satu-satunya pemimpin dunia Internasional yang dilantik langsung oleh Penguasa Jagad Raya untuk menyelesaikan problematika kemanusiaan tidak lagi mereka duduki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa yang jujur akan mengantarkan pada suatu kesimpulan bahwa masalahnya bukan terletak pada Islam tetapi pada umatnya, oleh karena itu untuk mengambil kembali tampuk kepemimpinan itu, mereka harus menyelesaikan problem internal dalam diri mereka sendiri, lalu apakah problematika mereka dan bagaimana penyelesaiannya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETINGGIAN ISLAM DAN KELALAIAN UMMATNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sebab ketidakmampuan umat Islam menyelesaikan tugas perbaikan umat manusia telah terlihat oleh mereka yang masih memiliki kilauan tanggung jawab dan menangis atas bencana kemanusiaan akibat kemunduran kaum muslimin, diantaranya adalah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; kebanyakan kaum muslimin tidak memandang Islam secara integral, padahal Islam adalah sistem kehidupan yang kaffah yang mencangkup seluruh aspek kehidupan manusia. ia adalah Sebuah konsep kehidupan paripurna dengan sumber permanen yaitu Al Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah yang menjaga kemurnian makna keduanya dari kontaminasi bid'ah dan distorsi takwil serta tidak membutuhkan perbaikan apapun baik tambahan maupun pengurangan seperti usaha yang dilakukan oleh para cendekiawan idiot yang mengaku Islam untuk mengimpor konsep hidup barat ke dalam jiwa kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga merupakan satu kesatuan bangunan yang harmonis, satu bagian syariatnya tidak bisa dipisah dengan syariat lainnya, setiap upaya pemisahan itu akan melahirkan bencana bagi kehidupan manusia. Bukti bencana kemanusiaan ini dapat dilihat di kebanyakan negara yang mayoritasnya muslim dikarenakan kebodohan pemerintahannnya yang membatasi syariat islam hanya pada ahwalusyakhsiyah saja dan peraturan sosial lainnya diserahkan pada ideologi manusia yang tidak pernah lepas dari relativitas akal dan intervensi hawanafsu yang pada akhirnya cita-cita keadilan dan kesejahteraan untuk rakyatnya hanya menjadi bunga-bunga ilusi di negara tersebut. oleh karena itu Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wahai orang-orang yang beriman masuk lah dalam Islam secara kaffah…" [Al-Baqarah; 208]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; pola interaksi kebanyakan kaum muslimin dengan Islam hanya sebatas wacana dan pembahasan saja, jarang yang sampai pada taraf aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman, "wahai orang-orang yang beriman mangapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan…"[assaff 2] dan jika pola interaksi ini tidak segera dirubah maka muslim teoritis manapun tidak akan mampu merubah realitas jahiliyah dan menyelesaikan berbagai agenda kebangkitan Islam dan umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; lemahnya komitmen mereka untuk menjalankan Islam sebagai agama dakwah, Allah berfirman, "kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, [karena] kalian menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah…[Ali Imron; 110] berbagai ekspansi dakwah dan jihad untuk perluasan Islam merupakan bukti dari agenda besar yang tidak lepas dalam sejarah keemasan kaum muslimin karena hanya dengan itulah mereka benar-benar memfungsikan dirinya atas perintah Robbani untuk mengemban tugas sebagai Arsitek peradaban manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat; tidak bersatu dalam kerja dakwah, Allah berfirman, "dan orang-orang kafir,sebagian mereka melindungi sebagian yang lain.Jika kalian tidak melakukannya,niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar" [Al-Anfal; 73].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noam Chomsky, seorang professor linguistik di Massachusetts Institut of Technology [MIT] yang dikenal sebagai tokoh intelektual yang berani "melawan arus" dan sering membuat "panas" pemerintah Amerika menyatakan bahwa persatuan umat Islam merupakan mimpi buruk paling besar bagi Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian diatas memberikan sebuah petunjuk jalan untuk kebangkitan Islam yaitu mengharuskan adanya sebuah jamaah pergerakan dakwah yang memahami Islam secara kaffah dan berusaha mengaplikasikannya dalam seluruh aspek realitas kehidupan sehingga menjadi sebuah kado solusi untuk semua problematika kemanusiaan yang sudah kusut, jika tidak maka usaha kebangkitan Islam hanyalah sebuah mimpi yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH KOMUNITAS DAKWAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 9 april 2009 yang akan datang merupakan salah satu permasalahan ummat islam di Indonesia yang harus menjadi perhatian kaum muslimin disana sebagai rasa tanggung jawab terhadap realisasi salah satu konsep Robbani dalam bidang kebangsaan atau kenegaraan yaitu konsep baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur yang telah direalisasikan secara sempurna olah Rasulullah saw. yang sering dikenal dengan nama Masyarakat Madani dalam bingkai Piagam Madinah, dan Piagam Madinah diakui oleh pakar studi Islam baik dari kalangan muslim atau non muslim sebagai konstitusi tertua di dunia yang sangat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pergerakan islam di Indonesia yang juga berusaha mengemban tanggungjawab ini telah berbentuk sebuah partai politik (parpol), mungkin penyebutan positif sebuah parpol telah menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan apalagi ketika menjelang pemilu, hal ini sangatlah wajar karena sebuah trauma rakyat terhadap pengalaman buruk realitas politik jahiliyah yang berdiri diatas kekufuran terhadap risalah Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan menggantinya dengan ideologi-ideologi kerdil buatan manusia seperti pancasila dan UUD 45 sehingga membentuk kaidah dalam benak mereka bahwa politik itu kotor!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parpol Islam tersebut juga masih meninggalkan kontroversi dikalangan umat Islam di Indonesia terutama di kalangan pergerakan Islam yang juga memiliki ghiroh yang tinggi terhadap tegaknya Islam di muka bumi. Dialog dalam suasana kemesraan Ukhuwah Islamiyah dengan bahan kajian yang tidak hanya bersifat teoritis tapi juga meyelami realitas dakwah sehingga terbentuk Fiqhul Waqi' untuk menentukan Fiqhul Muwazanah-Awwaliyat yang tepat harus terus dilakukan untuk menyamakan persepsi metode pergerakan dakwah atau kalau tidak biarkanlah perbedaan ijtihad selama tidak bertentangan dengan Tsawabit Al-Islam menjadi seperti perbedaan instrument musik orkesta yang menghasilkan lantunan musik yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini dapat mengembalikan rasa tanggungjawab kita untuk menjadi pemain dalam realitas bukan hanya menjadi penonton yang cuma bisa mengoceh. Wallahu a'lam bi As-Shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;By. Wahyu; Mahasiswa Al-Azhar Fak. Ushuluddin, Anggota Kifayah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3147043417932170319-4300381498146469079?l=kifayahplus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/4300381498146469079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3147043417932170319&amp;postID=4300381498146469079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/4300381498146469079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/4300381498146469079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/2009/04/kebangkitan-umat-islam.html' title='Kebangkitan Umat Islam'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319.post-6439906424049151214</id><published>2009-04-16T06:11:00.002-07:00</published><updated>2009-04-20T23:16:40.444-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Agama Kosmetik</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Sebuah Renungan Tentang Realita Kita"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. menarik selimut Nabinya yang terlelap “ya ayyuha al-muddatsir, qum fa andzir, wa rabbuka fa kabbir, wa tsiabaka fathohhir, wa ar-rujzah fahjur…”. Surat Al-Muddatsir ini seharusnya menyadarkan kita yang hanya terdiam saat agama ini dirong-rong musuh, saat penganutnya diadu domba dan saat Syariatnya dibuat bahan lelucon pemikiran-pemikiran liar. Ataukah hati ini, jasad ini sudah mati rasa karena terlalu lama duduk bersama pendusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serum yang telah berhasil disuntikkan di dada dan kepala umat Islam sudah cukup menjadikan Agama ini hanya sebagai kosmetik yang hanya menampakkan keindahan di luar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ada jarak yang semakin melebar antara nilai-nilai yang diajarkan agama dengan realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Memang nampak sepintas, kini kita banyak menemukan sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang memakai embel-embel agama di belakang namanya. Rumah-rumah ibadah seperti mesjid bertebaran hingga pelosok-pelosok desa.. Acara-acara keagamaan, semacam tabligh akbar, istighasah, ceramah atau khutbah para da’i kondang menghiasi program radio dan layar televisi kita. Tetapi hal itu semua masih harus dibuktikan efektifitasnya. Alih-alih berhasil menggerus kemungkaran, secara kualitas modus dan praktek kejahatan kian hari kian mengalami sofistikasi. Jangan-jangan orang yang menyaksikan acara-acara semacam itu memperlakukannya sebagai “instrumen katarsis” belaka. Persis seperti kita meyaksikan konser musik atau nonton film di bioskop, di mana tujuan paling utama orang datang ke sana adalah untuk memuaskan kebutuhan entertainment mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari sekian banyak pernyataan tentang wajah Islam dan Muslimin saat ini, namun pernyataan-pernyataan tersebut menjadi tak berarti kalau kita hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa ada keinginan memperbaiki diri, padahal itu semua merupakan kritikan tajam bagi kita para penuntut ilmu dan calon da’i yang sedang mempersiapkan diri di prantauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari renungkan realita yang terjadi sekitar kita, fenomena biasa yang lama-kelamaan membatu menjadi karakter dan begitu melekat pada kehidupan generasi muda Islam seperti kita. Sadar atau tidak kita mulai malu-malu menampakkan keislaman bahkan Amr Ma’ruf Nahi Mungkar sebuah jargon yang mulai tabu dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan renungan saya (penulis) akan mencoba menghubungkan antara beberapa firman Allah swt. dalam surah al-muddatsir dengan realita yang terjadi pada diri kita, bahwa kita masih membutuhkan hal-hal kecil sebut saja itu Tadzkirah. Saling mengingatkan adalah budaya umat Islam yang seharusnya dilestarikan sampai dunia ini berakhir, Firman Allah swt. “wa Tawashaw bi al-haqqi wa tawashaw bi ash-shabri” dan “ta’awanu ‘ala albirri wa attaqwa wa la ta’awanu ‘ala itsmi wa al-‘udwan” sudah cukup menjadi alasan yang kuat kenapa kenapa kita harus saling mengingatkan, belum lagi hadits-hadits Rasulullah saw. yang berkaitan dengan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhananya, Pada awal surah Allah swt. menyadarkan Nabi Muhammad saw. untuk bergegas dan kembali berdakwah, sebuah perintah yang masih berlaku sampai saat ini agar kita tidak bersembunyi di balik selimut. Selanjutnya pada ayat 18-25 Allah swt. menyebut kisah Walid ibn al-Mughira yang hampir saja masuk Islam Karena kekagumannya terhadap Al-Qur’an namun, karena terpengaruh lingkungan yang antipati kepada Islam akhirnya Walid ibn al-Mughira ini berpaling dari hidayah karena sugesti yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pengakuan “Mujrimin” tentang sebab-sebab mengapa mereka menghuni neraka “Saqar” juga disebutkan pada ayat 41-46, kalau kita simpulkan kira-kira seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab pertama; pribadi yang ringkih. “Qalu lam naku minal mushallin” bukan termasuk golongan orang-orang yang shalat bukan berarti tidak melakukan shalat atau meninggalkan shalat, mungkin saja kita masih termasuk orang yang tidak memperhatikan kualitas shalat atau mungkin shalat kita jadikan hanya sekedar formalitas. Lebih dari itu, sadar atau tidak kita mulai sinis terhadap orang yang dekat dengan masjid dan selalu menjaga shalat, kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kedua; kepekaan sosial yang tumpul. “walam naku nuth’imu miskin” kalau kita terlalu lama mempertahakan pribadi yang ringkih ini tanpa ada niat mengobatinya, maka hal ini akan merambat pada kehidupan bersosial kita, hidup sendiri-sendiri dan cuek dengan problem sosial yang seharusnya kita bias terlibat didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketiga; lingkungan dan teman-teman yang tidak Islami. “wa kunna nakhudlu ma’al khaidlin” ketika sebab pertama dan kedua dibiarkan berlarut-larut maka akan muncul lingkungan atau komunitas yang terdiri dari orang-orang “penjaja” Fasad yang menciptakan bahasa gaulnya sendiri, jauh dari kebenaran dan menentang kemapanan. Sedangkan Agama dianggap bagian dari kemapanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab keempat; mengingkari hari pembalasan. “wa kunna nukaddzibu bi yaumiddin” sebuah pengingkaran terhadap salah satu inti dari ajaran yang mulia ini, padahal perintah beriman kepada yang ghaib lebih didahulukan daripada melaksanakan ritual ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat penyesalan itu tiba, kita akan sadar bahwa setiap ayat-ayat yang Allah swt. tampakkan kepada kita adalah “Tadzkirah”. Saling mengigatkan itulah hal kecil yang terlupakan bahkan tabu dibicarakan, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lari dari peringatan ini, seperti himar yang terbirit-birit karena di kejar singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan mulia untuk para calon da’i di kampung halaman nanti, dari Alm. Ust. Rahmat Abdullah akan menutup tulisan kecil ini “karena dakwah bukan obral candu, perlu diuji ulang. Cukup tajamkah telinga ini mendengar krucuk perut yang hanya berisi angin. Cukup sensitifkah mata ini memandang seseorang yang membisu dalam kelaparannya yang sangatdan isterinya yang gemetar menanti rizki yang datang dengan sabar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;By. Shioukahn; Mahasiswa Al-Azhar Fak. Ushuluddin Jurs. Dakwah, Anggota Kifayah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3147043417932170319-6439906424049151214?l=kifayahplus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/6439906424049151214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3147043417932170319&amp;postID=6439906424049151214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/6439906424049151214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/6439906424049151214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/2009/04/agama-kosmetik-sebuah-renungan-tentang.html' title='Agama Kosmetik'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3147043417932170319.post-8957750861459095806</id><published>2008-11-19T07:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T08:09:25.837-08:00</updated><title type='text'>Dakhil dan Israiliyat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Subur*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebelum melangkah lebih jauh tentang pembahasan Dakhil dan Israiliyat, ada baiknya jika kita mendefinisikan keduanya terlebih dahulu, baik secara bahasa (etimologi) ataupun istilah (epostomologi).&lt;br /&gt;Ad-Dakhîl&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;I. Pengertian  Dakhil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;a. Menurut Bahasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab kata Ad-Dakhîl adalah antonim dari kalimat al-Ashîl. Penulis kitab Lisânu al-Arab berkata: Ro'yun Ashîlun Lahû Ashlun (pendapat yang ashîl adalah pendapat yang memiliki landasan). Fulânun Dakhîlun Fî Banî Fulân (si fulan adalah orang asing di lingkungan [bani] fulan).&lt;br /&gt;Semua kitab yang membahas tentang bahasa Arab menjelaskan bahwa makna Ad-Dakhîl tidak keluar dari, “Utusan atau sesuatu yang masuk dan menyelinap dari luar yang tidak memiliki asal sedikitpun dalam objek yang dimasukinya”. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;b. Menurut Istilah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Para ulama tafsir sepakat bahwa makna ad-Dakhîl menurut istilah adalah: Tafsir atau penafsiran yang tidak memiliki dasar sedikitpun dalam agama yang dilakukan dengan tujuan merusak makna dan kandungan Al-Quran. Hal itu akan terjadi disaat orang-orang lengah darinya. Dakhîl ini masuk ke dalam kategori tafsir yang muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;II. Dua Faktor Masuknya Dakhîl ke dalam Tafsir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, Faktor Eksternal. Hal ini datang dari orang-orang yang memusuhi Al-Quran. Diantaranya adalah orang Yahudi, Nashrani,  dimana mereka ingin merusak Islam dan mengotori ajarannya dengan hal-hal yang tidak layak. Mereka menyebar dan menyelipkan Khurofât serta kebathilan-kebathilan ke dalam Al-Quran agar umat Islam merasa ragu dengan agamanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, Faktor Internal. Hal ini datang dari mereka yang mengaku-ngaku sebagai bagian dari sekte Islam, padahal mereka memiliki hubungan yang kuat dengan musuh Islam di atas. Sebenarnya sekte Islam itu hanya menjalankan strategi yang dirumuskan oleh musuh-musuh Islam. Namun, bagaimanapun hebatnya strategi mereka, tetap saja mereka tidak akan berhasil mengotori makna dan kandungan Al-Qur`an, karena Allah swt. akan menjaganya sampai akhir zaman kelak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;III. Pengertian Al-Ashîl&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna Al-Ashîl menurut bahasa, adalah sesuatu yang memiliki asal yang kuat dalam objek yang dimasukinya. Sedangkan menurut istilah, ia bermakna Tafsir yang berlandaskan kepada Al-Quran dan As-Sunnah atau kepada pendapat sahabat dan tabi'in dan atau berdasarkan ijtihad dan buah pikiran (Ro`yun) yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan Syari'ah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;IV. Perkembangan Ad-Dakhîl dalam Tafsir &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah saw. hidup, para sahabat menanyakan langsung kepada beliau apa-apa yang tidak mereka pahami berkenaan dengan urusan agama dan makna Al-Quran. Sebab itulah, saat beliau berada di penghujung hayatnya, Allah swt. menetapkan bahwa syariat yang dibawanya telah sempurna. Maka setelah Rasulullah saw. wafat tidak ada lagi penambahan ataupun pengurangan dalam masalah Syari’at. &lt;br /&gt;Tidak ada seorangpun diantara sahabat yang berdalil tentang keesaan Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW kecuali dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka tidak mengetahui sedikitpun tentang perdebatan ilmu kalam dan masalah filsafat. Oleh karenanya semua permaslahan yang mereka hadapi, mereka dikembalikan kepada Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Ketika para sahabat mendapatkan beberapa ayat yang sulit dipahami maknanya, mereka bertanya langsung kepada Nabi saw. tentang ayat-ayat itu. Oleh karena itulah semua penafsiran mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur`an adalah sahih dan benar.&lt;br /&gt;Kemudian berlanjut ke masa Tabi’in. Di masa ini mulai terdapat kelemahan dalam tafsir. Mereka kurang berpegang kepada Manhaj para sahabat dalam menyaring berita yang datang dari Ahlul Kitab dan tidak juga menelitinya dengan mendalam. Ada beberapa Tabi’in yang memasukan dongeng-dongeng dan cerita-cerita Isrâ`iliyât yang aneh dan asing. At-Thobari di dalam kitab tafsirnya banyak mencantumkan dongeng-dongeng Isrâ`iliyât itu. Diantaranya adalah Isrâ`iliyât yang nisbahkan kepada Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair dan lain-lain.&lt;br /&gt;Cerita-cerita Isrâ`iliyât bertambah lebih banyak lagi pada masa setelah Tabi'in. Orang yang paling dikenal banyak memasukan cerita isroiliyyat antara lain adalah Muhammad bin Saib Al-Kalbi, Maqotil Bin Sulaiman, dan Muhammad Bin Marwan As-Sadi Ash-Shogir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;V. Sebab-Sebab Munculnya Ad-Dakhîl.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hadits Secara Global Penyebabnya adalah:&lt;br /&gt;1. Kepentingan politik.&lt;br /&gt;2. Banyaknya para ahli bid'ah seperti: Khowarij, Qodariah, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;3. Kuatnya fanatisme terhadap Ras ,Kabilah ,Bahasa dan Negara tertentu.&lt;br /&gt;4. Jahilnya dalam agama dengan tujuan yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;VI. Macam-Macam Dakhîl :  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dakhîl ada dua macam:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, Dakhîl Al-Manqûl, antara lain : &lt;br /&gt;a. Dakhîl dalam penafsiran Al-Quran dengan Maudhu'.&lt;br /&gt;b. Dakhîl dalam penafsiran Al-Quran dengan Isroiliyyat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; Dakhîl Al-'Aqlî, antara lain :&lt;br /&gt;a. Dakhîl Bahasa, yaitu penggunaan bahasa tidak pada tempatnya yang semestinya dalam menafsirkan Al-Quran.&lt;br /&gt;b. Dakhîl Ar-Ro'yi, yaitu menafsirkan Al-Quran dengan pendapat yang tercela baik disengaja maupun tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Isrâ`iliyât&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Pengertian Isrâ`iliyât&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Menurut Bahasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bahasa Arab kata Isrâ`iliyât adalah bentuk jamak (plural) dari kata Isrâ`iliyah. Kata itu dinisbahkan kepada Nabi Ya’qub as. Namun, yang dimaksudkan adalah kaum atau anak cucu beliau, yakni Yahudi.&lt;br /&gt;Kalimat Isrâ`iliyah itu sendiri berasal dari kata atau bahasa Ibrani, pada dasarnya ia adalah kalimat yang tersusun dari kata “Isrâ” yang bermakna “‘Abdun” atau “hamba” dan “îl” yang bermakna Allah. Jadi, kata Isrâ`îl bermakna hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. menurut istilah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sedang kan menurut istilah, kalimat Isrâ`iliyat bermakna kisah-kisah ataupun keterangan tentang Al qur’an maupun Hadits yang bersumber dari orang-orang Yahudi. Tetapi, walaupun demikian para ulama sepakat untuk memakai kan istilah ini bagi keterangan terhadap Alqur’an baik yang bersumber dari Yaudi ataupun Nasrani dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Permulaan Masuknya Isrâ`iliyât dalam Tafsir &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita akan mengalami kesulitan jika ingin menentukan tanggal ataupun musim masuknya Isrâ`iliyât ke dalam tafsir. Hal itu karena para shahabat ataupun Tabi’in tidak pernah menjelaskan hal yang demikian. Tetapi kita berani mengataklan bahwa Isrâ`iliyât muncul sejak masa Nabi saw., yaitu bermula ketika beliau hijrah ke Madinah (karena disitulah sarang nya Ahlul Kitab) dan ketika itu jugalah beliau menawarkan Islam kepada Ahlul Kitab. Bahkan, boleh jadi beliau sendiri yang bertanya kepada mereka tentang pemahaman atau wawasan mereka terhadap kandungan Taurat maupun Injil, atau mungkin juga mereka yang bertanya kepada beliau tentang Islam. Kalau kita perhatikan hadits-hadits Nabi Muhammad saw., tak sedikit kita temukan dialog-dialog beliau dengan para Ahlul Kitab, baik itu dari golongan Nasrani ataupun Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Sebagian Shahabat atau Tabi’in Mengambil Riwayat Isrâ`iliyât&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang kita maklumi bahwa sebagian shahabat ataupun Tabi’in, ada yang meriwayatkan dari para tokoh ataupun ulama Ahlul Kitab, seperti halnya dengan Abu hurairah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik dan para sahabat lainnya. Tak dapat dipungkiri bahwa kalangan tabiin juga melakukan hal demikian, mereka mengambil dari Ahlul Kitab kemudian disampaikan kepada umat Islam. Tetapi walaupun mereka, para shahabat atau pun Tabi’in, meriwayatkan dari Ahlul Kitab mereka memiliki syarat tertentu dan menerimanya pun punya syarat tertentu. Maka tak heran jika terjadi perdebatan sengit di antara para shahabat ataupun Tabi’in saat mereka menerima riwayat dari Ahlul Kitab.&lt;br /&gt;Adapun mengapa para shahabat ataupun Tabi’in menerima riwayat para Ahlul Kitab? Ha itu dikarenakan oleh sebab-sebab berikut ini:&lt;br /&gt;1. Para shahabat ataupun Tabi’in ra. melihat dan menyaksikan bahwa Nabi saw,  Pernah melakukan hal serupa, seperti beberapa dialog beliau dengan para tokoh Ahlul Kitab, khususnya dari kalangan  Yahudi. Misalnya adalah dialog panjang beliau dengan Abdullah bin Salam. Isi dialog tersebut adalah bahwa Abdullah bin Salam menjelaskan dan menanyakan tentang kerasulan Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;2. Nabi saw. pernah bersabda di dalam hadits shahih beliau,&lt;br /&gt;حَدِّثُوْا مِنْ بَنِى إِسْرَاءِيْلَ وَلاَ حَرَجَ.&lt;br /&gt;"…Riwayatkanlah kalian (hadits) dari Bani Israil, (karena) hal itu tidaklah berdosa….”&lt;br /&gt;Hadits inilah yang dijadikan landasan oleh para shahabat untuk menerima riwayat Ahlul Kitab, khususnya Yahudi.&lt;br /&gt;3. Nabi saw. tidak menafsirkan seluruh ayat Al qur’an yang diturun kan kepada beliau. Sementara itu dalam upaya menafsirkan beberapa ayat Al-Qur`an diperlukan ilmu yang sagat luas. Salah satu upaya itu adalah bertanya kepada para Ahlul Kitab yang memiliki wawasan tinggi tentang kitab mereka (Taurat atau Injil). Seperti halnya ketika menafsirkan ayat yang berhubungan dengan kisah-kisah terdahulu, misalnya kisah Nabi Adam atau sebelum penciptaannya serta kisah-kisah para nabi sesudahnya &lt;br /&gt;Satu hal yang perlu kita jadikan catatan penting dalam masalah ini adalah bahwa para sahabat atupun Tabi’in tidak menanyakan seluruh persoalan yang ada kepada Ahlul Kitab, melainkan mereka hanya menanyakn masalah yang berkisar tentang kisah-kisah atau pun kebiasaan Ahlul Kitab. Sedangkan mereka berbicara masalah aqidah, mereka tidak mau berkompromi dengan Ahlul Kitab, hal itu karena mereka berpegang kepada sabda Nabi saw., ”Lâ Tushaddiqû Ahlal Kitâbi  Walâ Tukazzibûhu Waqûlû Âmannâ Billâhi Wamâ Unzila Ilainâ.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Riwayat Isrâ`iliyât; Antara Diterima atau Tidak.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghukumi riwayat Isrâ`iliyât ini, dapat kita bagi menjadi tiga bagian penting:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; Isrâ`iliyât yang dapat diterima.&lt;br /&gt;Riwayat yang bisa kita terima dari Isrâ`iliyât ini tentunya harus sesuai dengan isi syariat yang diturunkan kepada Nabi kita, Muhammad saw. Jadi, selama Isrâ`iliyât itu tidak bertentangan maka kita boleh menerima riwayat tersebut. Hal ini berdasrkan hadits Nabi saw. yang artinya, "…Riwayatkanlah kalian (hadits) dari Bani Israil, (karena) hal itu tidaklah berdosa….” Maksud dari hadits yang shahih ini adalah dibolehkan meriwayatkan dan menerima hadits dari para Ahlul Kitab, selama kita tahu bahwa hadits itu sesuai dengan apa yang diturun kepada Nabi Muhammad saw., baik itu Alqur’an ataupun Al-Hadits. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; Isrâ`iliyât yang tertolak.&lt;br /&gt;Jika kita mengetahui dengan pasti akan kebohongan atau pun kedustaan riwayat Isrâ`iliyât, maka kewajiban kita selanjutnya adalah menolak dan tidak meriwayatkannya kepada orang lain. Hal itu karena akan berdampak negatif terhadap keyakinan kita sebagai umat Islam bahkan lebih dari itu akan merusak citra umat Islam itu sendiri. Yang demikian itu dikarenakan Nabi sendiri melarang umat beliau untuk meriwayatkan kisah-kisah yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan Al-qur’an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; Riwayat yang Natawaqqaf minhu&lt;br /&gt;Yang dimaksud disini adalah riwayat Isrâ`iliyât yang tidak kita ketauhui kebenaran ataupun kebohongannya, mungkin kita tidak pernah dapati di dalam Alqur’an ataupun Hadits yang menyatakan kebohongan nya ataupun kebenaran nya. Oleh karena itu, Nabi saw telah memperingatklan umat Islam dalam sebuah hadits yang cukup ma’ruf di kalangan para Ulama, &lt;strong&gt;“Lâ Tushaddiqû Ahlal Kitâbi  Walâ Tukazzibûhu Waqûlû Âmannâ Billâhi Wamâ Unzila Ilainâ.”&lt;/strong&gt; Artinya kurang lebih demikian, “Jangan kamu benarkan (riwayat) Ahlul Kitab itu dan jangan pula kamu dustakan mereka, namun katakanlah kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.”&lt;br /&gt;Adapun hukum meriwayatkan riwayat Isrâ`iliyât yang seperti ini para ulama bersilang pendapat, di antara mereka ada yang membolehkan dan sebagian lain ada yang melarang, karena mereka menilai bahwa hal ini akan membawa agama kepada hal-hal yang tidak diingin kan oleh Allah dan Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Isi yang Terkandung dalam Riwayat Isrâ`iliyât&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kandungan yang terapat pada riwayat Isrâ`iliyât tidak akan terlepas dari tiga hal pokok berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; hal-hal yang berhubungan dengan akidah &lt;br /&gt;Seperti halnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya dari Abdullah dia berkata, “Telah datang seorang pendeta yahudi menghadap Nabi, lalu dia berkata, “Ya Muhammad, kami mendapati (di dalam Taurat) bahwa Allah menjadikan langit pada sebuah jari dan bumi-bumi dalam satu jari dan seluruh makhluk, lalu Allah berkata, ‘Aku adalah raja dalam satu jari.’” Di waktu itu Nabi lannsung tertawa sehingga tampak gigi taringnya, karena membenarkan apa yang disampaikan oleh pendeeta yahudi tadi kemudian Nabi membaca ayat, &lt;br /&gt;وَمَا قَدَرُوْا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; hal-hal yang berhubungan dengan syari’at &lt;br /&gt;Seperti yang terdapat pada hadits yang diriawayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Bahwa segolongan orang yahudi datang untuk menghadap Nabi saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berzina, lalu Rasulullah bersabda, “Bagaimana hukumnya menurut kamu?” lalu mereka menjawab “Kami pukuli saja.” kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah tidak kalian dapati didalam Taurat hukum rajam?” lalu mereka sepakat untuk menjawab, “Tidak!” kemudian Abdullah bin Salam berkata, “Bohong kalian!”….” &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; hal-hal yang berhubungan dengan kisah-kisah dan pelajaran  &lt;br /&gt;Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya yang masyhur, ketika menafsirkan surat Hud ayat yang ke 38, yang artinya, “Dan buatlah perahu itu dengan pegawalan dan perintah kami, dan jangan tanyakan lagi kepadaku tentang orang2 kafir, sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan”&lt;br /&gt;Berkenaan dengan penafsiran ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa di dalam Taurat Allah swt. memerintah Nabi Nuh as. untuk membuat perahunya dengan kayu jati dengan ukuran; panjang 80 hasta dan lebarnya 50 hasta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Bahaya Riwayat Isrâ`iliyât&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Isrâ`iliyât yang dikisahkan oleh para pembesar Yahudi ini berdampak tidak baik bagi agama Islam, oleh karena itu kita akan uraikan bahaya yang akan ditimbulkan oleh riwayat ini.&lt;br /&gt;1. Orang-orang non muslim akan menganggap bahwa agam Islam adalah agama yang tidak resmi dari Allah swt. dan memiliki konsiitensi. Hal itu karana agama Islam ternyata banyak meriwayatkan dan menerima riwayat yang dibawa oleh para pendeta Yahudi khususnya dan pembesar agama lain pada umumnya, sehingga pada gilirannya akan menghilangkan kepercayaan sesesorang terhadap kitab suci Allah yaitu Alqur’an. Oleh karena inilah para ulama sangat berhati-hati dalam penukilan riwayat Isrâ`iliyât yang bersumber dari tokoh-tokoh Yahudi. &lt;br /&gt;2. Orang-orang muslim akan mengklaim bahwa agama ini adalah agama khurafat dan tidak mepunyai sandaran yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Contoh Cerita  Isrâ`iliyât:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Kisah Nabi Ayyub as.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kisah yang banyak ditambahi dogeng-dogeng adalah kisah Nabi Ayyub as. Banyak riwayat yang menceritakan tentang kisah beliau, namun kebanyakan cerita itu tidak layak bagi seorang Nabi. Diantara riwayat yang mengkisahkan beliau adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Qotadah ra. meriwayatkan, dia berkata, “Nabi Ayyub telah kehilangan harta dan keluarganya, dijasadnya terdapat banyak binatang, dia diuji selama 7 tahun lebih, beliau diasingkan di Sinagoge, lalu Allah mengganti seluruh ujian itu dengan pahala yang besar dan juga nikmat yang jauh lebih baik daripada sebelumnnya.”&lt;br /&gt;Hasan Al-Bashri dan Qotadah berkata : “Nabi Ayyub diuji oleh Allah selama tujuh tahun lebih, beliau diasingkan di sinagogenya bani Isroil, bermacam-macam binatang hidup di badannya, maka Allah mengganti dari seluruh ujian itu pahala yang besar dan memujinya dengan sebaik-baiknya pujian.”&lt;br /&gt;Berkata Wahab bin Munabbah : Nabi Ayyub mengalami musibah selami tiga tahun tidak kurang tidak lebih &lt;br /&gt;Berkata As-Sadi  : Daging Nabi Ayyub digerogoti, tidak ada yang tersisa kecuali urat dan tulangnya.&lt;br /&gt;Ibnu Hatim meriwayatkkan dengan sanadnya dari Az-Zuhri dari Anas bin Malik bahwa Rosulullah bersabda: Sesungguhnya Nabi Ayyub diuji oleh Allah selama 18 tahun, maka teman-temman jauh dan dekatnya menjauhinya kecuali dua orang saja, mereka adalah teman khususnya. Keduanya memberi makan Nabi Ayyub dan memboyongnya. Maka berkata salah seorang diantara mereka. Apakah kamu tahu? Demi Allah sesungguhnya Ayyub telah berbuat dosa yang belum pernah dilakukan seorangpun di jagat raya ini. Maka sahabatnya itu berkata. Apakah itu? Ia menjawab : selama 18 tahun ia tidak Allah kasihi, maka Allah menyembuhkannya. Maka ketika ia menghadap Nabi Ayyub ia tidak sabar dan menyebutkannya hal itu. Maka Nabi Ayyub berkata : Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Selain Allah mengetahui sesungguhnya aku menyuruh dua orang yang sedang bertengkar. Maka keduanya mengingat Allah. Maka Aku kembali ke rumahku. Maka aku menyembunyikan dari mereka hawatir mereka akan mengingat Allah kecuali pada kebenaran.&lt;br /&gt;Ibnu katsir berkata : hadits ini sampai kepada Nabi dengan predikat ghorib sekali. Sekalipun Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan : hadits yang paling sohih mengenai kisah Nabi Ayyub adalah apa yang diriwayatkan oleh ibnu Abi Hatim dan ibnu Jarir. Dan disahkan oleh ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan sanad dari Anas bin Malik seperti hadits di atas.&lt;br /&gt;Para peneliti berkomentar tentang penyandaran kepada Rosulullah SAW ini. bisa jadi hadist ini adalah buatan para pembuat hadits palsu yang menyusun sanad untuk sebuah matan hadits agar dianggap hadits marfu' dan sohih. Atau bisa jadi ini adalah isroiliyyat yang diada-adakan oleh bani isroil terhadap Nabi mereka. Dan Imam Ibnu Hajar bisa saja beliau mensohihkan apa yang benrtentangan dengan dalil akli dan naqli. Sebagaimana yang dilakukannya pada kisah al-Gorroniik,Harut dan Marut, dan semua yang diriwayatkannya baik itu mauquf atau marfu' tidak keluar dari apa yang dikatakan oleh wahab bin Munabbah dalah kisah Nabi Ayyub.&lt;br /&gt;Ini merupakan dalil yang kuat bahwa kebanyakan apa yang diriwayatkan tentang kisah Nabi Ayyub diambil dari ahli kitab yang masuk islam. Para pembuat cerita menambah cerita Nabi Ayyub ini supaya orang-orang terenyuh hatinya.&lt;br /&gt;Kisah yang benar tentang Nabi Ayyub ini adalah bahwa Al-Quran telah menceritakan kisah  ini melalui perantara Nabi-Nya. Allah telah menguji Nabi Ayyub AS pada badannya, hartanya dan keluarganya maka ia bersabar sehingga Allah menjadikan Ia sebuah suritauladan kesabaran. Allah memujinya dalam Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya) (Qs As shad : 44)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ujian merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang mu'min, yang wajib dilakukan bagi seorang mu'min adalah berkeyakian seperti apa yang di kisahkan oleh Al-Quran, tidak menambah-nambah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Zanadiqoh dan ahli kitab.Mereka memperlakukan Nabi-Nya secara tidak pantas. Dan tidak tidak perlu merasa aneh dengan prilaku bani isroil terhadap Nabi mereka. Terlebih-lebih mereka telah berkata yang tidak pantas kepada tuhan mereka &lt;br /&gt;Yang mesti kita yakini adalah berkeyakinan bahwa Nabi Ayyub AS diuji tetapi tidak sampai seperti apa yang dikisahkan oleh mereka, bahwa Nabi Ayyub terkena penyakit kusta yang menjadikan kulitnya penuh luka, bahkan dagingnya digerogoti sampai habis, orang-orang menjauhinya karena merasa jiji dan takut tertular. Kemudian bagaimana dengan para pengikutnya yang beriman. Apakah mereka menjauhi Nabi ayuub karena penyakit yang di deritanya? Bagaimana keimanan bisa berbuat seperti itu? &lt;br /&gt;Sebenarnya kisah yang mereka buat itu adalah kisah yang lemah dan tidak bisa pertahankan ketika dikritik dan tidak bisa juga dikuatkan oleh akal sehat. Penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub adalah penyakit yang tidak membuat orang lain menjauh darinya, tidak menular dan tidak pula menjijikan sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa. Buktinya Allah menyuruh Nabi Ayyub untuk memukul tanah dengan kakinya maka terpancarlah air . WAllahu a'lam bish-showwab. Ini adalah satu contoh yang ada dinatara banyak  kisah-kisah isroiliyat yang ada…&lt;br /&gt;Demikian lah pembahasan kita yang sedikit ini dan semoga Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang menjadikan amalan ini dalam kategori kebaikan yang akan dibalasi diakherat nanti dan semoga dengan ini semua akan membuat Allah meridai kita semua nya Amiiin Ya Rabbal ‘Alamiin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*Mahasiswa Al-azhar Tk.IV Fak. Ushuluddin, Jur. Tafsir&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3147043417932170319-8957750861459095806?l=kifayahplus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kifayahplus.blogspot.com/feeds/8957750861459095806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3147043417932170319&amp;postID=8957750861459095806' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/8957750861459095806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3147043417932170319/posts/default/8957750861459095806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kifayahplus.blogspot.com/2008/11/dakhil-dan-israiliyat.html' title='Dakhil dan Israiliyat'/><author><name>Islamic Intensive Research</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16069120067730471936</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Dg7a2oP37Vs/SQ4F2GnhhGI/AAAAAAAAAAM/NPsb4sCUCxI/S220/stamp+jpg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
